KONSIL KESEHATAN INDONESIA DUKUNG PERCEPATAN PEMENUHAN DOKTER SPESIALIS ONKOLOGI UNTUK TEKAN ANGKA KEMATIAN AKIBAT KANKER

KONSIL KESEHATAN INDONESIA DUKUNG PERCEPATAN PEMENUHAN DOKTER SPESIALIS ONKOLOGI UNTUK TEKAN ANGKA KEMATIAN AKIBAT KANKER

  • 12 Juli 2026
  • Berita
  • 130

Ketua Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Arianti Anaya, menyatakan dukungan terhadap upaya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dalam menekan angka kematian akibat kanker melalui percepatan pemenuhan dokter spesialis onkologi. Komitmen tersebut disampaikan dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada Minggu, 12 Juli 2026, melalui penguatan jalur Program Fellowship dan Advanced Clinical Training sebagai strategi mempercepat ketersediaan tenaga medis kompeten di bidang onkologi.

Dalam kesempatan tersebut, Arianti Anaya menyampaikan bahwa KKI siap mempercepat ketersediaan dokter spesialis onkologi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jalur pendidikan konvensional yang membutuhkan waktu panjang.

“Langkah ini kami lakukan melalui jalur program Fellowship dan Advanced Clinical Training. Dengan demikian, kebutuhan SDM kesehatan khusus penanganan kanker dapat segera terpenuhi untuk melayani masyarakat," tegas Arianti.

Dukungan tersebut diberikan sebagai respons terhadap tingginya angka kematian akibat kanker di Indonesia yang masih didominasi oleh keterlambatan diagnosis. Berdasarkan data GLOBOCAN, setiap tahunnya terdapat 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian, menjadikan kanker sebagai penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia. Sebagian besar pasien baru mendapatkan diagnosis ketika penyakit telah memasuki stadium lanjut sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih rendah.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kemenkes terus melakukan transformasi layanan kanker melalui pemerataan akses deteksi dini dan penguatan layanan rujukan. Sebanyak 10.000 Puskesmas telah dilengkapi mesin X-ray digital dan alat ultrasonografi (USG) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna mendukung deteksi dini kanker paru dan benjolan pada payudara. Selain itu, layanan tes HPV DNA juga disiapkan di fasilitas pelayanan kesehatan primer untuk mendeteksi virus penyebab kanker serviks sejak dini.

Penguatan layanan juga dilakukan di fasilitas kesehatan rujukan melalui penyediaan layanan CT scan di 514 kabupaten/kota, pengadaan 60 alat PET scan hingga tahun 2028, perluasan layanan kemoterapi di 500 kabupaten/kota, serta pembangunan fasilitas terapi proton pertama di RS Kanker Dharmais. Pengembangan infrastruktur tersebut memperkuat pentingnya percepatan pemenuhan sumber daya manusia kesehatan yang kompeten, sebagaimana didorong KKI melalui Program Fellowship dan Advanced Clinical Training, agar pelayanan kanker dapat diberikan secara optimal dan merata.

Langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat sistem pelayanan kanker secara nasional melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Tahun 2024–2034, termasuk penguatan registri kanker nasional dan pengembangan layanan berbasis precision medicine. Sinergi antara penguatan teknologi, infrastruktur, kebijakan, dan sumber daya manusia diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kanker yang berkualitas sekaligus menekan angka kematian akibat kanker di Indonesia.

facebook twitter email whatapps