KKI ASAH KREATIVITAS KOMUNIKASI PUBLIK LEWAT WORKSHOP DIGITAL

KKI ASAH KREATIVITAS KOMUNIKASI PUBLIK LEWAT WORKSHOP DIGITAL

  • 27 Oktober 2025
  • Berita
  • 1,295

Jakarta, 24/10/2025 – Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) menyelenggarakan Workshop Optimalisasi Peliputan dan Konten Digital Instansi: Teknik Pembuatan Berita, Strategi Media Sosial, dan Produksi Konten Visual Menggunakan Smartphone pada tanggal 23 - 24 Oktober 2025 di Menteng, Jakarta secara hybrid (luring dan daring)

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota dalam peliputan kegiatan, pengelolaan media sosial, serta pembuatan konten visual yang efektif dan menarik menggunakan perangkat smartphone. Peserta dibekai keterampilan praktis untuk mengemas pesan lembaga secara kreatif, informatif, dan relevan di era digital.

Salah satu jajaran pimpinan KKI, Mohammad Syahril mengatakan “Semua aktivitas dan kegiatan lembaga di era digital ini harus dikemas dengan baik bagi publik, jika tidak dikemas dengan baik itu tidak bisa menjadi komunikasi publik, tapi hanya sekedar data saja”

Hal ini juga ditegaskan oleh Azis dari Grup Kompas Gramedia yang mengatakan bahwa di era digital ini, beragam tantangan muncul dalam praktik komunikasi publik.

“Di era digital, komunikasi publik menghadapi beragam tantangan yang semakin kompleks. Kemudahan akses informasi menyebabkan information overload, di mana audiens kesulitan membedakan informasi yang benar dan relevan. Selain itu, hoaks dan misinformasi yang tersebar luas turut memengaruhi persepsi publik. Tak hanya itu, muncul pula krisis kepercayaan (trust issue) terhadap lembaga dan sumber informasi resmi, serta meningkatnya isu privasi dan keamanan data yang menuntut lembaga untuk lebih berhati-hati dalam mengelola komunikasi digital.” ujarnya.

Materi dan praktik teknik pembuatan berita juga dibawakan oleh Aditya dari Kompas Gramedia. Ia menjelaskan bahwa kemampuan menulis harus terus diasah karena menulis merupakan proses menuangkan gagasan menjadi informasi yang terverifikasi. “Skill menulis itu tidak cukup sekali belajar, tapi harus terus dilatih dan diupdate,” ujarnya.

Menurutnya, berita yang baik harus memenuhi unsur 5W+1H dan memiliki nilai berita seperti aktualitas, kedekatan, dan dampak. Adit juga menekankan pentingnya menentukan angle yang jelas, menggunakan kalimat sederhana, serta menyertakan data dan pernyataan pendukung. “Tulis apa yang pasti, bukan apa yang kita pikir menarik,” tambahnya, mengingatkan agar penulis berita menghindari kata sifat dan opini pribadi agar tetap objektif.

Ia juga menyarankan agar judul dibuat singkat dan kuat, sekitar 60 karakter, dengan subjek yang jelas di awal. “Judul yang baik itu jelas, padat, dan langsung ke inti,” katanya. Menutup sesinya, Adit menegaskan bahwa bahkan sebuah foto pun bisa menjadi berita jika mengandung nilai informasi.

Angga dari PT Garis Kreasi Pratama membagikan materi “Teknik Dasar Foto dan Video dalam Pembuatan Konten Media Sosial Menggunakan Smartphone.” Ia menjelaskan empat elemen penting dalam pembuatan konten, yaitu visual, pesan, cerita, dan emosi. Angga juga menekankan pentingnya persiapan alat seperti smartphone, tripod, mikrofon, dan pencahayaan, serta pengaturan kamera dengan resolusi minimal 1080p dan frame rate 30 fps. Ia menjelaskan penggunaan rule of thirds dan angle kamera seperti high angle, low angle, dan eye level untuk memperkuat visual.

 

Selain itu, kualitas audio yang jernih dan pencahayaan yang tepat turut memengaruhi hasil konten.“Personal branding menjadi kunci utama dalam menentukan visual, pesan, dan cara bercerita,” ujar Angga.

 

Nani dari Biro Komunikasi dan Informasi Publik memaparkan bahwa media sosial lembaga tidak hanya harus informatif, tetapi juga dapat dipercaya dan disukai publik. Ia menekankan pentingnya nilai komunikasi publik yang jujur, akuntabel, inklusif, dan empatik.

Menurutnya, setiap platform memiliki karakteristik berbeda, sehingga konten harus disesuaikan dengan audiens dan tujuan komunikasi mulai dari awareness, edukasi, hingga engagement.
“Konten yang baik adalah konten yang menjawab kebutuhan publik, bukan sekadar dokumentasi kegiatan,” ujar Nani.

Ia juga mengingatkan pentingnya perencanaan, evaluasi, serta etika digital dalam pengelolaan akun lembaga, dengan gaya komunikasi yang humanis, empatik, dan autentik.

Kegiatan Workshop ini dihadiri oleh Konsil Kesehatan Indonesia, Kolegium Kesehatan Indonesia, Majelis Disiplin Profesi, Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Ditjen SDMK, Sekretariat KKI, Kolegium Kesehatan Indonesia, dan MDP, Narasumber dari PT. Garis Pratama, PT. Info Media Digital (Tempo.co) dan Media Ekonomi dan Bisnis KONTAN, Grup Kompas Gramedia.

 

facebook twitter email whatapps